Kemarin, hari kamis tanggal 23 Agustus 2007, kami mengundang orang tua/ wali iswa untuk berkumpul di gedung SDIT Ulul Albab. Diantara agenda kegiatan yang berhasil kami bahas adalah rencana agenda kegiatan bulan Ramadhan.
Garis besar rencana kegiatan bulan Ramadhan adlah sebagai berikut: Pesantren Kilat dikemas dengan nuansa yang berbeda. Ga ada ceramah dan model yang semacamnya. Untuk anak seusia SD kelas 1, 2, 3, akan lebih mengena jika kegiatan yang bersifat aplikatif.
Maka kegiatan bulan Ramadhan diwujudkan berupa:
1. Kunjungan dan Dialog Tokoh.
Siswa akan diajak sharing pengalaman dengan tokoh2 agama, masyarakat, dll. Tentang bagaimana masa kecil beliau, masa remaja, masa-masa sekolah, hingga sekarang. Anak-anak diberi kebebasan untuk bertanya. Diharapkan, mereka nantinya akan bisa mendapatkan pengalaman yang bisa diambil dari apa-apa yang telah dipaparkan oleh tokoh yang kita tunjuk.
2. Bakti Sosial
Siswa akan diajak untuk peduli kepada sesama. menyalurkan bantuan, walaupun nilainya tak seberapa, kepada dhuafa di sekitar sekolah atau ke panti asuhan yang ada di sekitar sekolah. Harapannya, nantinya mereka akan memiliki empati yang lebih terasah. Dengan pembinaan mental model begini, mudah-mudahan sejak dini, anak-anak memiliki sifat-sifat mulia yang bisa menjadi bekal hidup di masa mendatang.
Mohon doa dan dukungannya.
Selasa, 28 Agustus 2007
Rencana Agenda Bulan Ramadhan
Label: agendaPenekanan pada hafalan juz amma
Alhamdulillah, sekitar sebulan sekolah mulai berjalan, sudah banyak kemajuan yang dicapai. Terutama pada hafalan juz amma. Sampai saat tulisan ini dibuat, rata-rata siswa sudah hafal 20 ayat dari surat An Naba.
Dengan segala keterbatasan yang kami miliki, kami berupaya menjaga amanah orang tua yang telah menitipkan anak-anaknya untuk kami didik di sekolah ini. Sekuat tenaga akan kami jaga amanah itu.
Kami sadar, dengan umur yang baru sebulan ini, masih banyak hal 2 yang belum bisa kami lakukan. Untuk itu kami memerlukan dorongan dan support dari orang tua, dewan guru, yayasan, dan semua pihak yang memungkinkan dan peduli terhadap pendidikan islam bagi anak-anak.
Sabtu, 04 Agustus 2007
International Symposium on the Future of Indonesia’s Islamic Education
International Symposium on the Future of Indonesia’s Islamic Education
Over 150 scholars, officials, teachers and international donors will work together over the next two days in Jakarta to develop strategies to “bridge the gap” between Islamic and general schools in Indonesia.
The International Symposium on Islamic Education was today opened by Ministry of Religious Affairs Secretary General, Professor Bahrul Hayat, and Australian Ambassador to Indonesia, Bill Farmer, at Jakarta’s UIN Syarif Hidayatullah.
Professor Hayat said he hoped the symposium would generate a number of practical ways to “help bridge the gap between Islamic schools and general schools in Indonesia”. He said the forum would bring together a number of qualified Indonesian and international scholars to share their experiences and their ideas for taking Islamic education forward.
Issues to be discussed include ways to improve the quality of teaching and learning in Islamic schools and the role of Islamic schooling in the Indonesian Government’s plan for national education.
Another focus issue is how to implement the Grand Design for Nine Years of Basic Education in Indonesia, a strategy prepared jointly by the Ministry of National Education and Ministry of Religious Affairs earlier this year, and the potential progress to be achieved under the strategy by 2025.
Mr Farmer said he hoped the symposium would help stimulate real debate among officials, practitioners, scholars and donors on how to better shape and strengthen the Islamic education system.
“These issues are critical for Indonesia’s future, given the important role Islamic schools play in this country,” Mr Farmer said.
The Grand Design notes that Islamic schools provide basic education to more than 20 per cent of Indonesian children and more than 25 per cent of women. The largely autonomous network of Islamic schools is the longest existing education system in Indonesia.
The 24-25 July symposium is a joint initiative of the Ministry of Religious Affairs and the Australian Government, through its international development agency, AusAID.
The event - the Basic Education in Islamic Schools in Indonesia: Bridging the Gap – Vision 2025 Symposium - is being funded under a five-year A$30 million (IDR 225 billion) Australian Government program (LAPIS), which aims to improve the quality of basic Islamic education in Indonesia.
Further information:
Rohmat Mulyana – Ministry of Religious Affairs, mob 0813 9515 0099
Robert Kingham – Team Leader, Learning Assistance Program in Islamic Schools (LAPIS), mob 0816 793 576
(http://www.indonesia.embassy.gov.au/jakt/MR07_047.html)